30/11/13

Belajar Karier dari The Legend of Boxing: Muhammad Ali



With Great Power comes Great Responsibility

Beberapa minggu lalu, di suatu stasiun TV swasta, disiarkan 2 pertandingan besar Muhammad Ali di saat jaya-jayanya. Sebenarnya selain pertandingan tersebut, ada sebuah pertandingan tinju menarik di September 1978 bertempat di Superdome, New Orleans, Louisiana, AS. 

Saat itu Muhammad Ali berusaha merebut juara kelas berat untuk yang ke tiga kalinya. Saat itu dengan usia yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, Ali dihajar habis-habisan di ronde awal oleh Leon Spinks yang 11 tahun lebih muda. Setelah pertarungan tersebut, para dokter menemukan bahwa Ali mengalami luka serius. Di saat pertarungan tersisa 3 ronde, saat itu sang pelatih Angelo Dundee  bertanya kepadanya yang sedang duduk di pojok ring,”Mau dihentikan atau diteruskan?” Intinya Ali mengatakan,”Saya tidak mau membicarakannya.” Ia tidak mau berbicara langsung kepada Dundee. 

Saat itu Ali memilih berbicara kepada dirinya sendiri, mengucapkan hal-hal yang sudah sering kita dengar selama ini: ”Akulah yang paling besar. Akulah yang paling besar sepanjang masa.” Dan ketika ia bangkit berdiri, ia bangkit dengan kekuatan, dan dalam proses melalui tiga ronde berikutnya, ia akhirnya merebut kembali sabuk kejuaraan kelas beratnya untuk ke-3 kalinya!
Apa yang menarik dari pertarungan tinju tersebut?

  • Ali bukanlah petinju muda lagi, yang secara fisik telah banyak mengalami penurunan dibanding sebelumnya. "float like a butterfly, sting like a bee" tidak lagi selincah dan sekeras dulu.
  •  Usahanya merebut gelar juara kelas berat ke tiga kalinya, jika berhasil adalah rekor besar yang diciptakan seorang petinju.
  • Di saat risiko besar menghadang dirinya, Ali percaya bahwa  ada hal lain yang dia miliki yang lebih besar dari lawannya yang ia dapatkan dari pembelajaran selama masa karirnya bertinju.
  • Meskipun mengalami luka serius, Ali tidak mengijinkan dirinya untuk merasa kalah sebelum pertandingan 15 ronde berakhir.

Hal yang serupa terjadi dalam perjalanan karier kita. Semakin lama kita dalam berkarier, tentunya semakin banyak tantangan yang kita jumpai, Apakah kita berusaha menghadapinya atau kita justru meninggalkan tantangan tersebut. Apa yang terjadi jika Ali saat itu sempat mengundang pikiran dalam dirinya "Saya bukan lagi yang terbesar. Saya sebaiknya menyerah." Tentu tidak ada lagi sejarah Ali tercatat sebagai petinju yang merebut juara kelas berat untuk ke tiga kalinya,

Semakin tinggi posisi jabatan kita, semakin jauh anak tangga yang berhasil kita lalui, segala sesuatunya akan makin berisiko. Risiko akan bertumbuh seiring dengan perkembangan karir kita. Dan menariknya bahwa kesuksesan dan kebahagiaan kita dalam berkarier, bukan berarti hanya mencapai prestasi terbaiknya. Namun bagaimana persiapan, proses perjuangan untuk meraihnya, dan rasa bersyukur pada Sang Kuasa setiap pencapaian prosesnya......itulah 'pengalaman yang paling menarik dan menyenangkan.' Di situlah nafas kehidupan karier kita tak pernah berhenti....
Always have FUN Energy for the next level of yours.




17/11/13

Play & Sing this Song: Work FUN Play Hard

Sudah 1 minggu ini, lagu Work FUN Play Hard: Hidup adalah Permainan, yang dibuat khusus untuk membangun energi ceria dalam berekpresi dan memandang kehidupan sebagai lahan permainan yang menyenangkan dapat diakses di

http://www.youtube.com/watch?v=wzVQrIsHdZI


Banyak animo positif, termasuk di beberapa daerah di Indonesia yang meminta juga lirik lagunya secara lengkap. 
Yuk kita selalu nyanyikan lagu ceria ini dalam kehidupan kita......





ada sebuah permainan yang baru
aturan kau buat dan kau lakukan sendiri
beri warna di dunia ini
......................
kau ciptakan suatu hal yaang kreatif
kuatkan pondasi dengan lentera jiwa sejati
dan nikmati per jalanan ini..
.............................
reff: hidup ini adalah permainan
       yang harus kau taklukan,yang harus menyenangkan
       hidup ini adalah permainan
       yang penuh warna warni,berikan semangat dan dedikasi
..............................
temukan sesuatu dalam hidupmu
hilangkan lah semua kegalauan dan muram duniamu
bersyukurlah kpada Tuhanmu..(interlude)
................................
#reff
Work fun ,,to be a Master
Play hard,,to be a Master
2x

--JENOUVA & FUN MASTER ACADEMY
 

27/10/13

Sumpah Pemuda: Peluang Gelombang Bonus Demografi



 Sumpah Pemuda! Yes,,,,,begitu besarnya arti peristiwa 85 tahun yang lampau. Patutlah kita semua kembali merindukan kebesaran peristiwa seperti saat itu. Di saat bangsa kita sedang terjajah, disanalah justru muncul kesatuan tekad untuk menyatakan: 
satu Tanah Air, satu bangsa, satu bahasa Indonesia.

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Saya sangat bangga menyaksikan berbagai prestasi baru anak-anak muda Indonesia. Baik dalam bidang ilmu pengetahuan, olah raga juga kesenian. Di satu sisi kita pun patut waspada, karna perjuangan untuk membentuk masa depan Bangsa yang gemilang...masih mendapatkan berbagai tantangan.

Keoptimisan dan kerja cerdas untuk menyelesaikan PR yang tertinggal tentunya dapat menjadi proses yang menyenangkan. Termasuk bagaimana kita semua dapat bersatu bahu-membahu memanfaatkan    Gelombang Bonus Demografi Indonesia !

Satu hal yang tak terlupa saat saya mengikuti program AOTS (The Association for Overseas Tehcnical Scholarship) untuk program Corporate Management di Jepang, Juni 2007, adalah perkataan Profesor Masayuki Furusawa dari Osaka University of Commerce.

Furusawa menyatakan pentingnya Intellectual Workers bagi perusahaan-perusahaan di dunia untuk tetap eksis di era Megacompetition ini. Namun sayangnya bagi Jepang, mereka memiliki masalah besar dengan demografi penduduknya. Jumlah penduduk usia tua di atas 65 tahun meningkat tajam dari tahun ke tahun. Komposisi per tahun dalam prosentase digambarkan sebagai berikut : tahun 2001:17.7 % , tahun 2025:  28.7%, tahun 2050:  35.7% , yang artinya 1 orang  produktif setidaknya  menopang 1 orang  non produktif (lansia dan di bawah usia kerja). 
Dampak yang berat bagi para pekerja mudanya. Selain mereka harus menanggung pajak yang besar,  juga jumlah tanggungan meningkat.  Mereka harus menopang PIRAMIDA demografi yang terbalik. Setiap kali mereka menerima penghasilan, mereka harus menyisihkan jumlah yang besar untuk kebutuhan orang lain yang ditanggungnya.

Bagaimana dengan Indonesia?  
Justru sebaliknya, Indonesia akan merasakan bonus demografi. Periode 2025-2030 itulah masa puncak-puncaknya jumlah angkatan kerja jauh berlebih dibanding usia tua. 100 orang produktif  hanya menanggung 44 orang non produktif.  Inilah peluang besar yang harus kita ambil. Gelombang sangat baik sedang menghampiri Indonesia, dan ini belum tentu akan terulang kembali.

Seorang teman saya Belda, yang tinggal di Tokyo, mengatakan:”Sejak dua tahun ini  tiba-tiba nama Indonesia menjadi HARUM di Jepang. Di koran, majalah, TV, banyak berita tentang Indonesia yang perekonomiannya menanjak dengan pesat, karena most of the peoplenya ada pada usia muda/produktif, dan usia konsumtif, (kerja, kawin, punya anak, nyekolahin anak dll. perlu beli ini beli itu). Nah ini diincar oleh para investor Jepang. Sejak tahun lalu mulai bermunculan perusahaan-perusahaan consulting dan research yang mau membantu perusahaan Jepang yang mau investasi  ke Indonesia. “
Masalahnya apakah kita mampu bermain dan memanfaatkan gelombang baik tersebut? Di satu sisi jika kita salah mempersiapkan diri, maka kita hanya menjadi penonton dari luar area permainan. Bahkan dimungkinkan Negara kita akan dibanjiri oleh tenaga kerja profesional asing-Ekspatriat.

So, it’s our time. And it’s our great Challenge!

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya …
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

~Soekarno~